skip to main | skip to sidebar

Tinta Perjalanan

Pages

  • Home
 
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube
  • DheTemplate.com
  • Free Templates
  • Drop Menu 1
    • Child Menu 1.1
    • Child Menu 1.2
    • Child Menu 1.3
  • Drop Menu 2
    • Child Menu 2.1
    • Child Menu 2.2
    • Child Menu 2.3
  • Daily Update Templates

Ahlan Wasahlan


Perjalanan Menuju Allah.

Saturday, 3 August 2013

Tetap Bermunajat Di Mihrab

Ditulis Oleh WAS Pada 18:40 – 0 Komen Anda
 
Sedar atau tidak, kita sekarang sudahpun memasuki 10 hari terakhir Ramadhan dan hendaklah kita sedari bahwa hari demi harinya yang berlalu dan detik demi detiknya semakin mahal dan tidak ternilai harganya.

Kita juga sudah sampai pada tahap untuk mencapai harapan yang semakin tidak mudah namun di sinilah sesungguhnya proses penyaringan itu bermula.

Itu jugalah yang dilakukan oleh Rasulullah saw sebagaimana yang diceritakan oleh Sayyidatina Aisyah ra bahwa :

“Rasulullah saw lebih bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh hari terakhir, melebihi kesungguhan sebelumnya.”

Maka, marilah kita sambut cabaran ini dan tetap bermunajat di mihrab sehingga berakhirnya Ramadhan.

Inilah masanya untuk kita :

1.      Meningkatkan kesungguhan dan keseriusan beribadah.
2.      Benar-benar menjejaki hidup dunia dengan perasaan akhirat.
3.      Berubah dari manusia bumi menjadi manusia langit.

Hari-hari sepuluh terakhir Ramadhan adalah kesempatan khusus yang sangat istimewa untuk kita mendapatkan ridha Allah swt.

Tidakkah kita ingin menyerupai apa yang dilakukan oleh orang-orang yang soleh di saat-saat seperti ini?

Pernahkah kita mendengar bagaimana keadaan para sahabat radhiallhuanhum sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali ra :

“Adalah para sahabat di pagi hari, rambut mereka kusut, masai dan berdebu. Di antara mereka ada bekas seperti orang yang berduka. Mereka telah sujud dan solat malam, bergantian antara kening mereka dan kaki mereka, beribadah kepada Allah. Mereka berdiri condong sempama pohon yang senget kerana telah banyak berbuah. Mata mereka menangis hingga membasahi pakaiannya...”

Hasan Al Basri pula berkata :

“Aku melihat sekelompok orang yang nyaris sama sekali tidak bahagia dengan sesuatu yang mereka perolehi di dunia dan tidak merasa sayang dengan apa yang mereka tinggalkan di dunia.
Jika datang waktu malam, mereka berdiri melakukan solat di atas kaki mereka, wajah mereka diairi air mata yang mengalir di pipi memanjatkan doa dan pengampunan kepada Tuhan mereka.

Apabila mereka melakukan kebaikan, mereka tidak mensyukuri amal yang mereka lakukan, tetap meminta kepada Allah agar menerima amal mereka. Apabila mereka melakukan kesilapan, mereka segera memohon agar Allah mengampuni dosa mereka.”

Maha suci Allah yang telah memilih kaki-kaki hambaNya untuk beribadah kepadaNya. Maha suci Allah yang telah menyibukkan hati orang-orang soleh untuk menyintaiNya.

Dosa-dosa mereka diampuni dan mereka mencapai keinginan yang mereka mahu. Mereka iringi usaha untuk mencapai keinginan itu dengan :

a.       Berpuasa.
b.      Solat.
c.       Bermunajat.

Di saat ramai manusia tertidur, di saat itulah mereka mengangkat hajat mereka satu demi satu kehadapan Tuhan mereka.

Hari-hari kita yang sangat mahal akan terus berjalan.

Berusahalah supaya tiada ruang waktu yang luput dari semua kebaikan dan amal soleh. Utamakanlah beribadah pada malam-malamnya.

Sungguh, pada malam-malam itu, Allah swt bertanya :

“Adakah orang yang meminta kepadaKu…?

Dalam hadith yang sahih yang diriwayatkan oleh Aisyah ra bahwa apabila memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah saw mengetatkan ikatan sarungnya, menghidupkan malam-malamnya dan membangunkan keluarganya.

Menghidupkan malam dengan solat, membaca Al Qur’an dan berbagai amal ibadah pada waktu-waktu seperti ini adalah sunnah Rasulullah saw yang diikuti oleh orang-orang yang soleh.

Di antara malam-malam di sepuluh yang terakhir ini, ada malam yang hitungan nilanya jauh berlipat kali ganda berbanding jarak masa kehidupan kita di dunia.

Malam Al Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Bermunajatlah dengan penuh ketundukan dan kerendahan diri di hadapan Allah swt yang Maha Pemurah dan Maha Mengasihani.

Bersyukurlah kepada Allah jika hari ini kita masih diberikan nikmat kehidupan dan kesihatan yang baik kerana esok kita akan berada :

1.      Di liang kubur.
2.      Dalam kegelapan.
3.      Dalam kepungan cacing yang tidak mungkin dapat dielakkan.

Mudah-mudahan ada satu rakaat kita di malam-malam sepuluh hari terakhir ini yang dapat mendatangkan rahmat Allah swt kepada kita di saat itu.

Semoga ada tasbih, tahmid dan takbir yang kita lantunkan dapat memberikan keringanan kepada kita pada saat itu.

Berharaplah agar ada ruku’ dan sujud yang kita lakukan dapat melapangkan kesempitan kita di saat itu.
Rasulullah saw melakukan i’tikaf di masjid sepanjang sepuluh hari terakhir.

Itulah tradisi ibadah yang dilakukan baginda sampai ajal menjemput baginda sebagaimana hadith yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari :

“Adalah Rasulullah saw beri’tikaf di masjid pada setiap sepuluh hari terkahir bulan Ramadhan. Dan pada tahun wafatnya, Rasulullah saw melakukan i’tikaf di masjid selama 20 hari.”

Sesungguhnya malam itu :

a.       Sekarang berada di antara kita.
b.      Paling baik sepanjang tahun.
c.       Paling mulia di sisi Allah swt.

Marilah kita beribadah di malam itu dalam bentuk menghidupkan ketaatan dalam bentuk solat, zikir dan doa kerana nilainya lebih baik dari seribu bulan atau bersamaan dengan lapan puluh tiga tahun empat bulan.
Sabda Rasulullah saw :

“Barangsiapa melakukan qiyam di malam Al Qadar dengan penuh keimanan dan ihtisab (pada keridhaan Allah), diampunkan baginya dosa yang telah ia lakukan.”

Qiyam dalam hadith di atas dijelaskan oleh para ulama’ adalah melakukan amal-amal ketaatan dengan penuh iman.

Ihtisab dalam hadith di atas pula bererti benar-benar memohon keridhaan Allah dan pahalaNya semata-mata bukan untuk riya’ atau selainnya.

Siapakah di antara kita yang tidak mempunyai dosa wahai saudaraku?

Adakah di antara kita yang sedikit dosanya?

Siapakah di antara kita yang merasakan amal ibadah dan kebaikannya telah cukup dan berhak mendapatkan kasih sayang Allah swt?

Marilah kita katakan :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai kemaafan. Maka maafkanlah aku.” (Hadith hasan sahih)

Menurut Ibnu Rajab, perintah memintakan maaf di malam Al Qadar dilakukan setelah seseorang bersungguh-sungguh beribadah di malam itu dan khususnya di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

Ini adalah kerana menurutnya :

“Orang-orang ‘aarifiin’ (yang mengenal Allah) bersungguh-sungguh melakukan ketaatan tapi mereka tidak memandang kesolehan yang mereka lakukan samada perbuatan ataupun perkataan sedangkan mereka mengajukan permohonan maaf sebagaimana permintaan orang yang berdosa dan banyak melakukan kekurangan.”

Cubalah kita turut merasakan aura kehidupan para sahabat dan orang-orang soleh di saat mengisi hari-hari ini dengan memperbanyakkan bacaan Al Qur’an, berzikir dan solat, mudah-mudahan kita dapat turut merasakan sedikit mahupun banyak kenikmatan berada dalam suasana zikrullah.

Malik bin Dinar berkata :

“Tidak ada kenikmatan yang dirasakan nikmat oleh seseorang dari zikrullah dan tidak ada amal yang lebih membahagiakan dan membuat hati cerah melebihi zikrullah.”

Imam Ibnul Qayyim pernah bercerita tentang salah seorang gurunya iaitu Imam Ibnu Taimiyah, katanya :

“Suatu ketika aku bertemu dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam solat subuh. Kemudian ia duduk berzikir kepada Allah hingga mendekati separuh waktu siang dan menoleh kepadaku sambil mengatakan, ‘Ini makanan pagiku. Bila aku tidak makan pagi, kekuatanku akan hilang’.”

Ibnu Taimiyah juga menjelaskan tentang pentingnya seseorang untuk sentiasa dalam keadaan berzikir.

“Zikir itu bagi hati seperti fungsi air bagi ikan. Bagaimana keadaan ikan bila ia keluar dari air.?”

I’tikaf adalah kesempatan yang sangat luar biasa untuk berzikir dan memperbanyakkan solat. Di sinilah kita dapat menerapkan salah satu wasiat Rasulullah saw :

“Jadikan bibirmu sentiasa basah dengan zikrullah.”

Tidak ada kesibukan yang lebih mendominasi kehidupan orang yang beri’tikaf kecuali zikir dan ibadah.

Marilah kita kuatkan kesungguhan dan keseriusan kita dalam menghidupkan malam-malam ini dengan berdoa, solat, berzikir dan beristighfar.

Jangan membuang masa percuma untuk sekadar banyak bertukar cerita dengan sesama orang yang beri’tikaf.

Jangan sia-siakan waktu minit demi minit dan detik demi detik yang terus berjalan dan tidak pernah berhenti. Semuanya akan terus berjalan dan tidak akan pernah berulang.

Jadilah orang-orang yang kikir untuk beribadah sepertimana yang digambarkan tentang keadaan orang-orang yang soleh di mana mereka adalah orang-orang yang sangat kikir terhadap waktu hidupnya iaitu lebih kikir daripada kikirnya seseorang terhadap dirhamnya.

Jangan lupa untuk memperbanyakkan doa di malam-malam yang berharga ini.

Umar bin Al Khattab ra pernah berkata bahwa :

“Aku tidak memiliki obsesi agar doa itu dimakbulkan. Obsesiku hanyalah pada ucapan doa itu sendiri kerana apabila aku terinspirasi untuk berdoa, pengabulan doa itu pasti datang beriringan tatkala doa itu diucapkan.”

Sungguh benar perkataan Umar tersebut kerana memang tidak semua doa akan dimakbulkan, misalnya ada orang yang berdoa meminta ditimpakannya sesuatu yang tidak disukai kepada sesorang dengan alasan apapun, maka doa itu pasti tertolak kerana doa seperti itu adalah kesan dari kebencian dan permusuhan terhadap seseorang.

Namun doa adalah tulang sulbi kepada ibadah dan ia merupakan puncak keimanan dan menjadi rahsia di sebalik munajat yang disampaikan seorang hamba kepada Tuhannya.

Jika seuntai doa terpancar dari hati seorang hamba yang sedar terhadap Tuhannya dan mencintai apa yang dicintaiNya, maka doa itu pasti mendapat tempat di Arasy Allah swt.

Suatu ketika Umar bin Al Khattab ra duduk keletihan di atas tumpukan tanah dan kerikil setelah selesai berkeliling melihat keadaan rakyatnya dan peluh serta keringatnya masih jelas kelihatan di wajahnya lalu ia terduduk dan berkata :

“Ya Allah, usiaku sudah semakin uzur, tubuhku sudah semakin kurus kerana tua dan rakyatku kini semakin bertambah. Kembalikanlah aku kepadaMu dalam keadaan tidak menyia-nyiakan mereka dan dalam keadaan tidak termakan oleh fitnah. Tetapkanlah bagiku kematian sebagai syahid di jalanMu dan wafatkanlah aku di tanah RasulMu…”

Perhatikanlah bait-bait doa yang dipinta oleh Umar ra itu. Tidak panjang yang dipinta oleh Umat ketika itu. 

Tapi,

Adakah Umar meminta sesuatu urusan dunia di dalam doanya?

Adakah obsesi dan keinginan duniawi masuk dalam doa Umar kepada Allah swt?

Apakah yang diharapkan oleh Umar ra di dalam doa-doanya?

Umar hanya menyampaikan kepada Allah bahwa tubuhnya sudah tua renta dan usianya yang sudah uzur. Sementara di sudut lain, ia semakin menyedari kewajiban yang mesti ditunaikannya semakin banyak.

Umar menumpahkan perasaan hatinya itu kepada Allah swt dan meminta perlindungan Allah dari badai fitnah yang mungkin menimpanya dalam situasi seperti itu lalu ia memohon agar kematiannya adalah syahid di jalan Allah dan tempat wafatnya adalah di kota Madinah Al Munawwarah.

Indah sekali tujuan yang diinginkan oleh Umar ra dalam doanya dan mulia sekali perasaan yang tercurah dalam doa-doa Umar serta damai sekali kandungan makna cinta dan kerinduannya kepada Rasulullah saw hingga ia memohon agar jenazahnya berada tidak jauh dari jenazah Rasulullah saw yang mulia.

Inilah obsesi yang mulia yang dimiliki oleh Umar ra.

Ia memang tidak pernah sedikitpun bergantung kepada urusan harta dan dunia dalam hidupnya setelah menyatakan beriman kepada Allah dan Rasululah saw.

Kehidupannya amat sederhana dan sentiasa mementingkan orang lain dalam soal dunia.

Dialah khalifah yang begitu berhati-hati menjaga harta kaum Muslimin dengan mengatakan :

“Posisiku terhadap harta baitul mal tidak lebih dari orang yang menjaga harta anak yatim”.

Bait-bait doa yang diucapkan oleh Umar ra itu naik ke langit. Penggalan-penggalan permohonan  yang muncul dari hati seorang soleh yang sentiasa berkeliling untuk memperhatikan orang lain serta membahagikan cintanya kepada ramai orang itu diterima oleh Allah swt.

Seluruh permintaannya dimakbulkan oleh Allah swt. Ia sungguh-sungguh mati syahid kerana tikaman seorang fasiq di dalam masjid dan darahnya terpercik membasahi tanah Rasulullah saw.

Sesungguhnya kunci dimakbulkan doa itu ada pada bait-bait doa yang kita ucapkan itu.

Bait-bait doa yang diajar oleh Umar ra adalah bait-bait doa yang benar-benar mengutamakan keakhiratan dan bukan keduniaan kerana doa tentang keduniaan adalah tanda seseorang kurang memperhatikan akhirat manakala sebaliknya doa tentang keakhiratan sentiasa melampaui dunia yang menyebabkan dunia akan mengikuti akhirat.

Inilah yang difahami dari kata-kata Rasulullah saw :

“Barangsiapa yang berpagi-pagi dan akhirat menjadi obsesi terbesarnya maka Allah akan menghimpun seluruh keperluan untuknya dan menjadikan kekayaan ada di dalam hatinya lalu dunia akan mendatanginya dengan menunduk dan barangsiapa yang dunia menjadi obsesi utamanya, maka Allah akan memadamkan impiannya dan menjadikan kemiskinan di depan matanya dan dunia tidak akan mendatanginya kecuali apa yang sudah ditetapkan untuknya.” (HR Tirmizi)

Berbahagia dan bersyukurlah dengan keadaan ini dan perhatikan bagaimana dalamnya makna ucapan Umar ra ketika ia mendapat ilham untuk berdoa dan pengabulan doa tersebut beriringan ketika ia mengucapkan doa.

Maka, tanamkanlah obsesi akhirat di sini dan di dalam hati dan dada kita.

Bersihkan sedikit demi sedikit dominasi dunia yang sudah lama menjadi raja dalam hati kita.

Letakkanlah pandangan akhirat di sini iaitu di dalam kelopak mata kita.

Hamparkanlah perjalanan menuju akhirat di sini iaitu di hadapan setiap langkah kaki kita.

Marilah menjadi manusia-manusia akhirat dan bukan manusia-manusia dunia kerana inilah yang diungkapkan oleh Ibnul Qayyim :

“Jika hanya Allah yang kamu tuju, maka kemuliaan akan datang dan mendekat kepadamu serta segala keutamaan akan menghampirimu. Kemuliaan sifatnya mengikut. Ertinya, jika kamu menuju Allah, kemuliaan akan mengikutimu. Tapi jika kamu hanya mencari kemuliaan, Allah akan meninggalkanmu. Jika kamu telah menuju Allah kemudian tergoda untuk mencari kemuliaan selain bersama Allah, maka Allah dan kemuliaanNya akan pergi meninggalkanmu.”

Marilah di saat-saat akhir hari-hari Ramadhan yang mulia ini, kita bermunajat dan mengharapkan apa yang ada di sisi Allah swt melebihi apa yang ada pada kita dan yang dikurniakan Allah kepada kita sehingga kemuliaan akan datang mendekati dan merapati diri kita setelah kita berusaha sedaya upaya mengisi sebulan bulan Ramadhan ini serta sepuluh hari akhirnya dengan tetap bermunajat di mihrab memohon keampunan dari dosa-dosa kita dan keselamatan dari azab api neraka di akhirat kelak.

Ya Allah, terimalah puasa kami di bulan Ramadhan ini dan amal-amal soleh kami yang kami lakukan di bulan yang mulia ini serta perkenankanlah segala permintaan kami di setiap saat di dalamnya. Jadikanlah munajat kami di kesunyian malam benar-benar dapat menyelamatkan kami dari azab api neraka  dan mendapat perlindungan dariMu serta mendapat syurga Firdausmu dalam keadaan dikumpulkan bersama dengan kedua ibubapa kami yang telah meninggalkan kami namun sentiasa menunggu kedatangan kami.

Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS      

[ Read More ]
Read more...
Thursday, 1 August 2013

Rahsia Kekuatan Puasa

Ditulis Oleh WAS Pada 04:03 – 0 Komen Anda
 
Jika kita merenung ayat tentang kewajiban puasa, sesungguhnya ianya dimulakan dengan seruan kepada orang-orang yang beriman.

Di dalam Al Qur’an terdapat sekitar 90 ayat yang dimulai dengan panggilan atau seruan kepada orang-orang yang beriman dengan kalimat :

“Wahai orang-orang yang beriman”.

Ini merupakan suatu panggilan yang menunjukkan kecintaan dari Allah swt yang sangat mendalam sehingga mereka yang diseru merasakan getaran cinta dari Allah swt yang membuatnya :

a.       Mudah untuk menerima isi seruan.
b.      Bersedia melaksanakan tanggungjawab-tanggungjawab yang terkandung di dalamnya.

Ini pulalah yang kita terasa dalam perintah melaksanakan puasa Ramadhan sebagaimana firman Allah swt :

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS Al Baqarah :183)

Islam sebagai sebuah agama yang benar mesti diperjuangkan penegakan dan penyebarluasannya oleh kaum muslimin dengan segala akibatnya.

Sebagai seorang muslim yang sejati, kedatangan dan kehadiran Ramadhan yang mulia pada tahun ini merupakan sesuatu yang amat membahagiakan kita.

Betapa tidak, dengan menunaikan ibadah Ramadhan, amat banyak keuntungan yang akan kita perolehi, samada dalam kehidupan di dunia mahupun di akhirat kelak.

Di sinilah letaknya kepentingan bagi kita untuk membuka tabir rahsia kekuatan puasa sebagai salah satu bahagian terpenting dari ibadah Ramadhan.

Kaum muslimin perlu dipersiapkan kekuatan rohaninya untuk mampu memikul  tugas-tugas perjuangan yang berat itu.

Ibadah puasa Ramadhan  merupakan salah satu usaha untuk membentuk kekuatan umat muslimin agar mampu memikulnya.

Ada beberapa sasaran yang perlu dicapai oleh setiap mukmin yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan, khususnya dalam konteks memikul amanah perjuangan menyebarkan dan menegakkan nilai-nilai kebenaran Islam yang menjadi kewajiban setiap muslim.

PERTAMA : MEMANTAPKAN AQIDAH YANG KUKUH

Tujuan utama puasa adalah mempersiapkan hati manusia untuk :

1.      Bertaqwa.
2.      Lebih merasa sensitif.
3.      Melembutkan hati.
4.      Merasa takut kepada Allah.

Taqwa membangkitkan kesedaran dalam hati sehingga ia mahu menunaikan kewajiban.

Taqwa juga menjaga hati seseorang sehingga ia tidak mahu merosakkan nilai-nilai ibadah puasa dengan maksiat meskipun hanya dengan getaran hati untuk berbuat maksiat.

Ketaqwaan kepada Allah swt merupakan bukti nyata dari kukuhnya aqidah seseorang dan oleh kerananyalah puasa ditaklifkan kepada siapa sahaja yang beriman kepada Allah swt agar keimanan itu dapat menjelma menjadi ketaqwaan yang sempurna.

Oleh yang demikian, taqwa menjadi puncak ketinggian rohani seorang muslim sehingga orang bertaqwalah yang berada pada tingkatan yang paling mulia di sisi Allah swt sebagaimana firman Allah swt :

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al Hujuraat :13)

Dalam konteks kehidupan masyarakat yang rosak, tujuan puasa ini menjadi sangat penting.

Kukuhnya iman menjadi modal utama bagi manusia untuk dapat memperbaiki akhlaknya dan dari iman yang kukuh di dalam hati akan terwujud manusia yang berakhlak mulia.

Oleh kerana itu, Sayyid Qutb dalam tafsir Fi Zilalil Qur’an menyatakan :

“Apabila berlaku kerusakan pada suatu generasi manusia, maka untuk memperbaikinya bukan dengan memperketatkan hukuman terhadap mereka melainkan dengan jalan memperbaiki pendidikan dan hati mereka serta menghidupkan rasa taqwa di dalam hati mereka.”

KEDUA : MENGUATKAN JIWA

Dalam pentas kehidupan, tidak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya lalu manusia itu menurut apa sahaja yang menjadi keinginannya meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu serta merugikan orang lain.

Oleh yang demikian, di dalam Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam ertikata berusaha untuk dapat mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuatkan kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi.

Manakala dalam peperangan ini, apabila manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan berlaku kerana manusia yang kalah dalam peperangan melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan dari kepada Allah swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan manusia kepada kesesatan.

Allah memerintahkan kita memperhatikan masalah ini dalam firmanNya :

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya.” (QS Al Jaathiyah :23)

Dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang membuatkan jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan yang demikian, manusia akan memperolehi darjat yang tinggi seumpama malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala doanya dikabulkan oleh Allah swt.

Rasulullah saw bersabda :

“Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak doa mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan doa orang yang dizalimi.” (HR Tirmizi)


KETIGA : MEMANTAPKAN HUBUNGAN DENGAN ALLAH

Salah satu nilai tarbiyah dari ibadah puasa adalah usaha untuk memantapkan hubungan dengan Allah swt.

Ini adalah kerana setiap muslim yang berpuasa mestilah melaksanakannya kerana Allah dan dilakukan dengan ketentuan-ketentuan yang datang dari Allah swt.

Sesuatu yang biasanya halal untuk dilakukan atau dinikmati, pada saat berpuasa, seorang muslim diharamkan oleh Allah swt dan ia tunduk sahaja kepada Pencipta meskipun ia boleh melakukannya atau memiliki sepenuhnya untuk dinikmati.

Ini menunjukkan hubungan yang baik dengan Allah swt yang terjelma dalam bentuk kepatuhan kepadaNya dan untuk itu, seorang muslim mampu mengendalikan dan mengatasi tuntutan dari dalam dirinya yang bersifat fizikal seperti makan, minum dan keperluan seksual.

Terjalinnya hubungan yang rapat dengan Allah swt merupakan modal yang sangat penting bagi manusia, bahkan tidak hanya untuk memikul amanah perjuangan tapi juga untuk mampu menjalani kehidupan di dunia ini dengan sebaik-baiknya.

Hubungan manusia yang jauh dengan Allah swt akan hanya menimbulkan pelbagai persoalan dan permasalahan dalam kehidupan ini, sedangkan masalah yang timbul tidak mampu diatasi.

Padahal apabila manusia merasa dekat dengan Allah dan ia merasa sentiasa diawasi oleh Allah swt, niscaya ia tidak berani menyimpang dari ketentuanNya dan apabila penyimpangan itu sudah berlaku, iapun cepat-cepat mengakui kesalahannya hingga memiliki kesediaan untuk menjalani hukuman akibat kesalahan yang dilakukannya, bukan dalam senario yang bertentangan di mana walaupun ia sudah salah tapi masih lagi merasa tidak bersalah dan mencari seribu dalih untuk menghindarkan diri dari hukuman dan berusaha untuk menutup kesalahan yang telah dilakukannya.

KEEMPAT : MENGENALI NILAI KENIKMATAN

Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia, namun ramai pula manusia yang tidak pandai mensyukurinya.

Dapat satu tidak terasa nikmat kerana menginginkan dua, dapat dua tidak terasa nikmat kerana menginginkan tiga dan begitulah seterusnya.

Padahal jika manusia mahu memperhatikan dan merenungkan, apa yang diperolehinya sebenarnya sudah sangat membanggakan kerana begitu ramai orang yang memperolehi sesuatu namun ianya tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang kita perolehi.

Maka dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh untuk memperhatikan dan merenungkan tentang kenikmatan yang sudah diperolehinya, tapi juga disuruh merasakan secara langsung betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Perkara ini sebenarnya dirasai kerana baru beberapa jam sahaja kita tidak makan dan minum, namun sudah benar-benar terasa penderitaan yang kita alami dan pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air.

Di sinilah letak peri pentingnya ibadah puasa bagi mendidik kita untuk menyedari betapa tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita seterusnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan erti kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah memang sedikit dan kecil.

Rasa syukur memang akan membuatkan nikmat itu bertambah banyak, samada dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya.

Allah swt berfirman :

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim :7)

KELIMA : MEMANTAPKAN HUBUNGAN DENGAN SESAMA MUSLIM

Puasa Ramadhan adalah ibadah yang dilakukan oleh kaum muslimin secara serentak di seluruh dunia.

Kaum muslimin merasakan satu perkara yang sama, iaitu lapar dan dahaga dan sama-sama berjuang untuk mampu menahan dan mengendalikan diri dari melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan oleh Allah swt meskipun peluang untuk itu sangat besar.

Nilai kebersamaan ini diharapkan mampu menghasilkan hubungan yang baik dengan sesama muslim.

Semangat kebersamaan merupakan modal yang sangat berharga bagi usaha perjuangan di jalan Allah swt, apalagi Dia amat mencintai orang yang berjuang secara bersama-sama dengan kerjasama yang baik.

Firman Allah swt :

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang dijalan-Nya dalam suatu barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kukuh.”(QS As Shaff : 4)

Salah satu ladang dakwah dan perjuangan yang perlu mendapat perhatian besar dari seluruh komponen kaum muslimin adalah masjid-masjid yang sudah dibangunkan dengan bagus dan tersergam indah dengan pengeluaran dana yang besar, namun keadaan pemakmurannya belum begitu rancak berbanding dengan kemegahan fizikal bangunannya.

Untuk dapat memakmurkan masjid sehingga berfungsi sebagai pusat pembangunan masyarakat Islam, diperlukan kebersamaan antara sesama umat Islam, samada sebagai pengurus pentadbiran masjid ataupun ahli jamaah biasa.

Oleh itu, perlu terjalin kerjasama yang harmoni antara pengurus pentadbiran masjid dengan ahli jamaahnya, bahkan perlu terjalin pula kerjasama antara sebuah masjid dengan masjid yang lain, bukan hanya sesebuah masjid itu berjalan sendiri dengan segala persoalan yang dihadapinya.

KEENAM : MENGINGATI DAN MERASAKAN PENDERITAAN ORANG LAIN

Merasai lapar dan dahaga juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasai oleh orang lain.

Ini adalah kerana pengalaman lapar dan dahaga yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah bila akan berakhir.

Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa kebersamaan kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan yang hingga kini masih belum dapat diatasi seperti penderitaan saudara-saudara kita di Palestin, Syria, Myanmar, Chechnya, Iraq dan lain-lain.

Oleh kerana itu, sebagai simbol dari rasa kebersamaan itu, sebelum Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan demikian setahap demi setahap kita dapat mengatasi permasaalahan-permasaalahan umat yang menderita.

Bahkan zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, tapi juga bagi kita yang mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya.

Allah swt berfirman :

“Ambillah zakat dari sebahagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS At Taubah :103)

KETUJUH : MEMANTAPKAN JIWA KETABAHAN

Perjuangan dalam bidang apapun, ketabahan jiwa merupakan sesuatu yang sangat dituntut  pada diri para pejuang.

Demikian pula dengan perjuangan Islam dengan segala dimensinya yang luas. Namun kita perlu sedari bahwa ketabahan tidak muncul dengan sendirinya, bahkan setiap orang masing-masing perlu memperolehi kefahaman dan mendapatkan latihan bagi memiliki ketabahan.

Ibadah puasa adalah salah satu bentuk ibadah yang memberikan pendidikan dan latihan untuk memiliki ketabahan sehingga seorang muslim yang telah berpuasa semestinya menjadi orang yang memiliki daya tahan yang kuat dalam mempertahankan nilai-nilai kebenaran yang datang dari Allah swt meskipun dalam keadaan yang sukar seperti lapar dan dahaga.

Oleh kerana itu, ketika situasi menjadi begitu genting dalam perjuangan yang dilakukan oleh Rasulullah saw, khususnya sesudah wafatnya Khadijah ra, seorang isteri dan pendukung perjuangan serta wafat pula Abu Talib yang sering memberikan perlindungan kepada Nabi dari gangguan orang-orang kafir, maka Allah swt menegaskan kepada Nabi Muhammad saw untuk bertahan dan meneruskan perjuangan, walauapapun yang berlaku.

Ini adalah kerana, jika kita berbicara tentang kesukaran, generasi terdahulu juga mengalami kesukaran, bahkan kesukaran yang lebih berat lagi sehingga Nabi Muhammad saw diperintah bersama para sahabatnya agar jangan memiliki sikap atau perasaan yang berlebihan dalam ertikata merasa sangat sukar dalam perjuangan yang dilalui oleh mereka.

Allah swt berfirman :

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang-orang yang bertaubat bersamamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Hud :112)

Dengan yang demikian, ibadah Ramadhan pada tahun ini sepatutnya menjadi momentum yang sangat penting untuk memperbaiki keadaan peribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa menuju ridha Allah swt.

Ramadhan sudahpun memasuki hari-hari sepuluh yang terakhir dan tidak lama lagi akan berakhir.

Rasanya belum banyak yang dapat kita lakukan untuk memaksimumkan bulan Ramadhan bagi peningkatan ketaqwaan kita, namun walauapapun, Ramadhan tetap akan berakhir dan kita berharap semoga Ramadhan yang akan datang dapat kita jumpai lagi dengan tekad untuk dapat  mengisinya dengan sesuatu yang lebih baik.

Kita juga berharap semoga dengan berakhirnya Ramadhan, kita akan kembali kepada fitrah atau kesucian diri kita masing-masing sebagaimana bayi yang baru dilahirkan iaitu dalam keadaan tidak berdosa dan memiliki tauhid yang mantap.

Allah swt memang telah menjanjikan sedemikian melalui sabda Rasul-Nya saw :

“Allah swt mewajibkan puasa Ramadhan dan aku mensunnahkan solat malam harinya. Barangsiapa berpuasa dan solat malam dengan mengharap pahala (keridhaan) Allah, maka dia keluar dari dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.“ (HR Ahmad)

Apabila kita telah kembali kepada fitrah dalam ertikata terhapusnya dosa-dosa dan bersih tauhid kita dari segala bentuk kemusyrikan, maka kita termasuk orang-orang yang berjaya dalam menunaikan ibadah Ramadhan tahun ini.

Kejayaan ibadah Ramadhan dalam bentuk terhapusnya dosa-dosa merupakan sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh pancaindera kita, namun kesan yang konkrit dan nyata yang menjadi kayu pengukur kejayaan ibadah Ramadhan dapat dinilai apabila kita mampu memenuhi sasaran-sasaran yang telah dihuraikan sebelum ini yang akan meningkatkan pengertian sebenar penghambaan kita kepada kepada Allah swt.

Ya Allah, jadikanlah puasa kami benar-benar memberi kekuatan untuk kami meningkatkan rasa penghambaan kami kepadaMu. Terimalah puasa kami dan amal-amal soleh kami di bulan Ramadhan ini sehingga ianya akan menjadi kegembiraan kami apabila bertemu denganMu di akhirat kelak.

Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS



[ Read More ]
Read more...
Newer Posts Older Posts
Subscribe to: Posts (Atom)

Yang Setia

Pautan

  • Muharikah
    Antara dua pilihan
    4 years ago
  • Angel Pakai Gucci!
    Doa Itu Bom Nuklear Bagi Orang Mu'min!
    6 years ago
  • Majalah Jom!
    Isu 45: ALAMAK, AKU SALAH PILIH! (EDISI ISTIMEWA)
    10 years ago
  • دعوتنا DAKWATUNA -dakwahkite-
    Di antara Kefahaman dan Pelaksanaan (Sudut Pandang Parti Kebebasan dan Keadilan FJP – Mesir)
    11 years ago
  • ZADUD-DUAT
    Wahai Ikhwah, Persaudaran adalah rahsia kekuatan anda
    12 years ago
  • Popular
  • Recent
  • Archives
 

Diri Ini

My photo
WAS
Blog ini memaparkan bahan-bahan bacaan dan artikel yang boleh meningkatkan ilmu dan kefahaman Islam anda..
View my complete profile

Blog Ini Menarik??

Yang Paling Digemari

  • Kedahsyatan Perosak Dajjal
    Kita sekarang sudah berada di akhir zaman di mana tanda-tanda hari kiamat terutama tanda-tanda kecil sudah banyak kelihatan dan kini han...
  • Kepentingan Intima' Jamai'e
    Sebuah Jamaah yang berjuang untuk : 1.       Mengembalikan manusia pada penghambaan kepada Allah swt semata-mata. 2.       Mengemba...
  • Tsabat Memenangkan Dakwah
    ‘ Tsabat ’ bermakna teguh pendirian dan tegar dalam menghadapi ujian serta mehnah di jalan kebenaran. Ia merupakan benteng bagi seorang ak...
  • Memenuhi Seruan Allah Dan Rasul
    Bersemangat dalam menyahut seruan dakwah menunjukkan adanya ‘ jiddiyah’ (kesungguhan) kerana kesungguhan adalah salah satu dari ciri-ciri a...
  • Mutiara Hikmah Para Duat

Arkib

  • ▼  2017 (1)
    • ▼  April (1)
      • Mutiara Hikmah Para Duat
  • ►  2016 (4)
    • ►  September (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (39)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (1)
    • ►  June (5)
    • ►  May (6)
    • ►  April (6)
    • ►  March (6)
    • ►  February (2)
    • ►  January (5)
  • ►  2014 (42)
    • ►  November (5)
    • ►  October (4)
    • ►  August (4)
    • ►  July (1)
    • ►  June (9)
    • ►  May (8)
    • ►  April (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (4)
  • ►  2013 (72)
    • ►  December (1)
    • ►  November (5)
    • ►  October (4)
    • ►  September (5)
    • ►  August (6)
    • ►  July (5)
    • ►  June (7)
    • ►  May (5)
    • ►  April (7)
    • ►  March (7)
    • ►  February (9)
    • ►  January (11)
  • ►  2012 (163)
    • ►  December (8)
    • ►  November (9)
    • ►  October (9)
    • ►  September (9)
    • ►  August (6)
    • ►  July (12)
    • ►  June (9)
    • ►  May (15)
    • ►  April (16)
    • ►  March (18)
    • ►  February (24)
    • ►  January (28)
  • ►  2011 (93)
    • ►  December (24)
    • ►  November (69)

Susunan

  • Akhlak (6)
  • Aqidah (17)
  • Dakwah (73)
  • Fikrah (74)
  • Ilmu (38)
  • Motivasi (10)
  • Muslimah (3)
  • Mutiara Hikmah (12)
  • Mutiara Hikmah Para Duat (21)
  • Mutiara Hikmah Ramadhan (3)
  • Renungan (31)
  • Ruhiyah (8)
  • Tarbiatuna (5)
  • Tarbiyah (34)
  • Tausiyah (31)
  • Tokoh (8)
  • Uslub (11)
  • Video (29)

Panji Islam

Asmaaul Husna

Kalam Hikmah

Coretan Anda

Pengunjung

Detik Kehidupan

Hari Ini

Waktu Solat

Pelawat


widgets

Selamat Melayari

  • NEW POSTS
  • COMMENTS
  • flickr

    Get your Flickr ID!
 
 
© 2011 Tinta Perjalanan | Designs by Web2feel & Fab Themes

Bloggerized by DheTemplate.com - Main Blogger