skip to main | skip to sidebar

Tinta Perjalanan

Pages

  • Home
 
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube
  • DheTemplate.com
  • Free Templates
  • Drop Menu 1
    • Child Menu 1.1
    • Child Menu 1.2
    • Child Menu 1.3
  • Drop Menu 2
    • Child Menu 2.1
    • Child Menu 2.2
    • Child Menu 2.3
  • Daily Update Templates

Ahlan Wasahlan


Perjalanan Menuju Allah.

Wednesday, 26 December 2012

Surah Yang Menjadi Pembela

Ditulis Oleh WAS Pada 18:53 – 0 Komen Anda
 
Allah swt telah menurunkan kepada kita Al Qur’an sebagai :
a.       Cahaya.
b.      Rahmat.
c.       Ubat dari penyakit hati dan badan.
d.      Penerang jalan manusia.
e.       Penjelas dari perselisihan yang berlaku di kalangan manusia.
Al Qur’an memuatkan kisah orang-orang terdahulu dan berita bagi orang yang mengikutinya. Di dalamnya terdapat penjelasan mengenai hukum-hukum syariat yang berkaitan dengan halal dan haram.
Al Qur’an memiliki kekhususan yang dijelaskan oleh Rasulullah saw di mana baginda :
1.      Mengajarkan kepada kita bahwa di dalam Al Qur’an terdapat banyak surah yang dapat memenuhi keperluan dan menghilangkan kesempitan.
2.      Memberitahu kepada kita bahwa di dalam Al Qur’an terdapat banyak surah yang sebahagiannya melebihi sebahagian yang lain meskipun semuanya adalah firman Allah.
Salah satu surah yang memiliki kekhususan tersebut adalah Surah Al Mulk iaitu sebuah surah yang berisi 30 ayat.
Allah swt menurunkan surah tersebut di hati nabi Muhammad saw sebelum baginda berhijrah ke Madinah. Kandungan Surah Makkiyyah ini adalah tentang :
a.       Persoalan aqidah.
b.      Hujah orang kafir.
c.       Perdebatan orang musyrik.
d.      Keadaan penduduk syurga dan kenikmatan yang ada di dalamnya.
e.       Keadaan penduduk neraka dan azab yang ada di dalamnya.
Rasulullah saw telah memberitahu kepada kita bahwa surah yang diberkati ini merupakan :
1.      Pencegah.
2.      Penjaga.
3.      Penyelamat.
4.      Pemberi syafa’at.
Ia akan :                                                                                                              
a.       Memberikan syafa’at kepada pemilik (pembaca) nya.
b.      Menyelamatkan dari azab kubur.
c.       Membelanya didepan Rabb-Nya Azza Wa Jalla pada hari kiamat kelak.
Rasulullah saw  bersabda:
“Sesungguhnya surah yang berisi tiga puluh ayat ini akan memintakan syafa’at bagi pemiliknya maka dia pun diberi ampunan.” (HR Ahmad)
Dari Ibnu Abbas ia berkata :
“Seorang laki-laki mendirikan khemah di atas kuburan yang tidak disedarinya. Lalu ia mendengar suara manusia tengah membaca surah Al Mulk hingga selesai. Lalu ia mendatangi Rasulullah saw dan menceritakan kejadiannya:
‘Wahai Rasulullah, aku mendirikan khemah di atas sebuah kuburan, tapi aku tidak menyedari jika itu adalah kuburan. Lalu aku mendengar suara seseorang tengah membaca surah  Al Mulk hingga selesai.’
Rasulullah saw bersabda, “Itu adalah penghalang yang akan menyelamatkan pemiliknya dari azab kubur.” (HR Tirmizi)
Dari Jabir bin Abdillah ia berkata ;
“Rasulullah saw tidak tidur pada malam hari sehingga dia membaca (Alif Laam Miim, Tanzil) dan (Tabaarakallazi Biyadihil Mulku).” (HR Tirmizi)
Ibnu Abbas ra memberi pengajaran kepada seseorang dengan bertanya :
“Mahukah engkau aku hadiahkan sebuah hadits?”
Laki-laki tersebut menjawab, “Ya,”
Ibnu Abbas berkata :
“Bacalah (tabaarakalladzi biyadihil mulku) dan ajarkanlah kepada keluargamu, semua anak-anakmu, bayi-bayimu, dan tetanggamu kerana, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Aku suka kalau surah itu berada dalam hati setiap orang dari umatku.”
Inilah surah yang diberkati yang semestinya :
1.      Kita sentiasa membacanya.
2.      Kita lantunkan dengan lisan.
3.      Kita perhatikan dengan hati.
4.      Kita ajarkan kepada anak-anak dan isteri kita.
Marilah kita baca surah tersebut pada setiap malam, mudah-mudahan Allah swt memberikan syafa’atnya kepada kita lalu kita akan diselamatkan dari azab kubur dan kedahsyatan hari kiamat.
Inilah surah yang diberkati iaitu surah yang dinamakan sebagai surah ‘makkiyyah’dalam :
a.       Memberikan penjelasan tentang ‘qudrah’ Allah swt.
b.      Berbicara tentang kebesaran-Nya.
c.       Menetapkan kenabian Muhammad saw.
Surah ini dimulai dengan pujian kepada Allah swt.
“Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
‘Biyadihil mulk’ 
(Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan).                                 
Ertinya, Allah swt memiliki kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya.
Dialah :
1.      Pemilik penciptaan dan perintah.
2.      Yang memberi makan dan bukan yang diberi makan.
3.      Yang memberi balasan bukan yang diberi balasan.
4.      Maha Pemberi rezeki.
5.      Yang Mempunyai Kekuatan lagi sangat kukuh.
6.      Yang ditangan-Nyalah kerajaan setiap sesuatu.
7.      Pencipta segala sesuatu.
8.      Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
9.      Yang tidak ada sesuatu pun yang ada di langit dan di bumi yang dapat melemahkannya.
10.  Yang apabila Ia menghendaki sesuatu, ia berkata, “Kun” (jadilah), maka terjadilah.
“Alladzii khalaqal mauta wal hayaata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalaa wa huwal ‘aziizul ghafuur”
(Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun).
Allah menghinakan hamba-Nya dengan kematian, meskipun :
a.       Ia menjadi penguasa manusia.
b.      Jawatannya telah memuncak.
c.       Hartanya melimpah ruah.
d.      Kekuatannya kukuh.
e.       Umurnya panjang.
Namun, akhirnya ia akan tetap mati. Penghujungnya adalah kehancuran dan ketidakadaan. Ruhnya akan dipisahkan dengan badannya dan selepas itu ia akan memasuki kehidupan yang kekal di mana di dalamnya tidak ada tidur dan kematian.
Apabila seseorang itu tergolong di kalangan ahli syurga, ia akan berada dalam kenikmatan yang kekal dan tidak akan hilang.
Begitu pula apabila ia tergolong dari kalangan penduduk neraka (na’udzubillahi min dzalik), maka sesungguhnya mereka : 
“Tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya.” “Di dalamnya mereka tidak mati, tidak juga hidup.” 
Mereka akan berada dalam azab yang kekal abadi selama-lamanya dan tidak berubah.
Allah menciptkan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa di antara kita yang lebih baik amalnya.
Tidak semua hamba Allah sama.
1.      Ada yang kafir.
2.      Ada pula yang mukmin.
3.      Ada yang baik.
4.      Ada pula yang jahat.
Allah swt ingin menguji mereka siapa di antara mereka yang paling ikhlas dan benar. Ikhlas adalah tidak menyengutukan Allah dengan sesuatu pun, sedangkan benar adalah sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.
Allah swt berfirman :
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia mengerjakan amal yang soleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”
“Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalaa wa huwal ‘aziizul ghafuur” (Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan, Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun).
Dialah Yang Maha Besar Lagi Mulia, Yang Ditaati dan Ditakuti. Bersamaan dengan itu Dia Maha Pengampun kepada siapa sahaja yang bermaksiat dan bertaubat dan juga kepada orang yang melampaui batas kemudian bertaubat. Dan, Dialah Yang Maha Perkasa Lagi Maha Pengampun.
“Alladzii khalaqa sab’a samawaatin thibaaqaa maa taraa fi khalqir rahman min tafawut” 
(Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang).
Wahai :
a.       Orang musyrik.
b.      Orang kafir.
c.       Orang yang ragu-ragu.
d.      Orang yang menentang Rasulullah saw.
e.       Orang yang kafir kepada agama-Nya!
Lihatlah di atasmu; lihatlah ke langit-langit itu; lihatlah dengan saksama dan penuh perhatian dan bukan seperti penglihatan binatang.
Lihatlah ke langit-langit itu, apakah engkau mendapati sesuatu yang tidak seimbang?
Apakah engkau mendapatinya berlubang, retak dan lemah?
Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang, berselisih ataupun kacau. Tidak, tetapi ia adalah langit yang sempurna, tebal dan kuat. Lihatlah kepadanya dan bandingkanlah keadaanmu dengan keadaannya.
“Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit?Allah telah membangunnya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. Ia memancarkan darinya mata air dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.”
“Maka, apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun. Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kukuh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah).”
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.Dan, bumi itu Kami hamparkan, maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami).”
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit). Dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami).”
“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan, iaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka, syaitan-syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal,”
Marilah kita perhatikan langit yang berlapis-lapis ini, marilah kita perhatikan kebesaran ciptaan-Nya.
“Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat?”
Ia tidak memiliki tiang.
Bagaimana Allah meninggikannya?
Bagaimana Allah menjadikannya kuat, tebal dan sama dan di dalamnya tidak ada lubang dan retak?
Inilah kekuasaan Allah Azza wa Jalla.
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka, lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?Kemudian, pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemui sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah.”
“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan,” 
Qatadah ra berkata :
“Allah menciptakan langit-langit dan di dalamnya terdapat bintang-bintang untuk tiga tabiat.
PERTAMA : HIASAN LANGIT DUNIA
KEDUA : ALAT-ALAT PELEMPAR SYAITAN
KETIGA : TANDA-TANDA YANG MEMBERIKAN PETUNJUK
“Dan dengan bintang mereka mendapatkan petunjuk.”Barangsiapa yang berbicara di luar itu, ia telah membebani dirinya dengan sesuatu yang tidak diketahuinya.”
Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa bintang-bintang memiliki pengaruh terhadap kejadian di dunia bahwa hujan turun atau kekeringan berlaku, rezeki dibentangkan atau disempitkan kerana pengaruh bintang tersebut, ia telah membebani dengan sesuatu yang tidak semestinya dan berkata atas nama Allah apa yang tidak diketahuinya.
“Dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.”
Iaitu para syaitan yang :
1.      Mencuri pendengaran dan menyesatkan para hamba.
2.      Mendorong mereka agar berbuat maksiat.
3.      Menganjurkannya berbuat keburukan.
4.      Menghiasi kebatilan sehingga nampak indah.
5.      Menyuruh mereka berbuat mungkar dan mencegahnya dari berbuat makruf serta menahannya untuk taat kepada Allah.
Allah Azza wa Jalla telah menyiapkan untuk mereka ini neraka jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali iaitu siksa neraka yang menyala-nyala, yang diperuntukkan untuk syaitan dari kalangan jin dan manusia. Allah menyiapkan untuk mereka jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.
“Dan orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, memperolehi azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak.”
“Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah.”
Hampir bahagian-bahagian langit itu terputus dan terbahagi kerana besarnya kemarahan terhadap orang-orang yang kafir kepada Allah, menentang Rasulullah dan membunuh para wali-Nya. Neraka jahanam hampir-hampir pecah kerana marah terhadap orang-orang kafir.
Rasulullah saw bersabda :
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membakar api neraka 1000 tahun sehingga memutih. Kemudian Allah membakarnya lagi 1000 tahun sehingga memerah. Kemudian Allah membakarnya 1000 tahun sehingga menghitam. Ia adalah hitam yang gelap”
“Kullamaa ulqiya fiiha faujun saalahum khazanatuha alam ya’tikum nazir”                 
(Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir). Penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?”
Pertanyaan yang bernada menjelekkan dan mencela.
a.       Apakah belum pernah datang kepadamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?
b.      Apakah belum pernah datang kepadamu seorang rasul?
c.       Apakah belum pernah datang kepadamu seorang yang mengingatkan dirimu?
d.      Apakah belum pernah datang orang yang menjelaskan syariat, agama, halal dan haram kepadamu?
 “Mereka menjawab: ‘Benar ada, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakannya dan kami katakan: ‘Allah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar’.”
Mereka menghadapi para utusan Allah dengan akhlak yang buruk dan tidak mempunyai rasa malu iaitu dengan berkata :
“Kamu wahai para rasul, tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.”
Kamu adalah orang yang tersesat dan menyimpang. Biarkanlah kami dan berhala yang kami sembah. Biarkanlah kami mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Kemudian setelah itu mereka mengakui bahwa dirinya bukanlah orang-orang yang berakal. Mereka tidaklah memiliki kemampuan untuk memisahkan antara yang buruk dengan yang baik.
“Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.”
“Orang-orang kafir dibawa ke neraka jahannam berombong-rombongan. Sehingga, apabila mereka sampai ke neraka itu, dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: ‘Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: ‘Benar (telah datang).’ Tetapi, telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir. Dikatakan (kepada mereka): ‘Masukilah ke pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya.’ Maka, neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.”
Mereka :
1.      Mempersaksikan diri mereka sendiri bahwa mereka adalah tuli, buta dan bisu.
2.      Adalah orang-orang gila.
3.      Tidak mendengarkan ‘al-Haq’.
4.      Tidak pula membicarakan ‘al-Haq’.
5.      Tidak melihat petunjuk-petunjuknya.
“Mereka mengakui dosa mereka. Maka, kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.”
Adapun orang mukmin yang baik dan soleh, mereka :
a.       Mengagungkan Allah dengan seagung-agungnya.
b.      Mengetahui Deen dan syariat-Nya.
c.       Menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram.
d.      Tidak hanya takut kepada Allah ketika berada di tengah orang ramai tetapi juga ketika bersendirian samada dalam keadaan zahir ataupun batin.
“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperolehi ampunan dan pahala yang besar.”
Orang yang takut kepada Rabbnya, meskipun berada di tengah manusia atau ketika bersendirian atau semasa pintu terkunci atau ketika tabir dibentangkan, maka, bagi mereka pahala yang besar.
Rasulullah saw bersabda :
“Ada tujuh golongan yang berada dalam naungan Allah pada hari tidak ada nauangan, kecuali naungan-Nya.”
Siapakah orang yang termasuk  ke dalam tujuh golongan tersebut iaitu golongan yang berbahagia dan yang mendapatkan keutamaan itu?
Ianya tidak lain adalah mereka yang takut kepada Rabb-nya, sebagaimana :
1.      Tidak ada yang melihat kecuali hanya Dia.
2.      Tidak ada yang mendengar kecuali hanya Dia.
3.      Tidak ada yang mengamati kecuali hanya Dia.
Iaitu :
“Seorang laki-laki yang berzikir kepada Allah dalam bersendirian, kemudian bercucuran air matanya. Dan, seorang laki-laki yang dipanggil wanita yang cantik dan berkedudukan.” 
Di sana tidak ada polis yang mengawasinya dan tidak ada mata yang melihatnya. 
“Maka ia menjawab, “Sesungguhnya saya takut kepada Allah.”
“Dan seorang laki-laki yang menyedekahkan hartanya kemudian ia menyembunyikannya.” 
Laki-laki yang berurusan dengan Allah dan ia :
1.      Tidak ingin ‘riya’ (dilihat orang).
2.      Tidak ingin ‘sum’ah’ (didengar orang). 
“Maka kemudian ia menyembunyikan sedekahnya itu, sehinggga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” 
Ketujuh golongan ini adalah mereka yang takut kepada Allah, yang tidak nampak oleh mereka. Maka “Bagi mereka pahala yang besar.”
Kemudian Rabb kita Jalla Jalaaluh mengancam semua manusia :
“Dan rahsiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahsiakan), dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?”
Wahai Hamba Allah, janganlah engkau mengira bahwa :
a.       Engkau hanya berurusan dengan manusia yang hanya dapat melihat yang zahir.
b.      Engkau hanya berurusan dengan makhluk yang kemampuan dan wawasannya terbatas.
Tidak!, demi Allah, tetapi engkau berurusan dengan Yang Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana, Maha Halus Lagi Maha Mengetahui.
“Dia mengetahui rahsia dan yang lebih tersembunyi.”
“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”
“Tidak ada tersembunyi dari-Nya seberat zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar.”
Ketahuilah dengan yakin bahwa :
1.      Sesuatu yang tersembunyi, namun di sisi Allah nampak jelas.
2.      Sesuatu yang engkau rahsiakan dan sembunyikan, maka di sisi Allah nampak jelas dan terang.
“(Iaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah syurga itu dengan aman, itulah hari kekekalan.”
Marilah kita baca dan hafalkan surah yang agung ini. Bersemangatlah untuk membacanya pada setiap malam dan ajarkanlah surah ini kepada isteri dan anak-anak kita serta siapa sahaja yang di bawah tanggungan kita niscaya kita akan bahagia, selamat dan beruntung.
Kita memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar menjadikan Al Qur’an ini :
a.       Bersemi di hati kita.
b.      Cahaya dalam dada kita.
c.       Pelenyap duka kita.
d.      Penghilang kesedihan kita.
Ya Allah, ajarkanlah kepada kami apa yang tidak kami ketahui dari Al Qur’an. Ingatkanlah apa yang kami lupa dan anugerahkanlah kepada kami untuk membacanya pada penghujung malam dan siang dalam rangka untuk mencari ridha-Mu.
Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS


[ Read More ]
Read more...
Monday, 24 December 2012

Panorama Jalan Dakwah

Ditulis Oleh WAS Pada 17:08 – 0 Komen Anda
 

Dakwah adalah sebuah perkataan yang sangat luas maknanya. Ia menjadi jalan yang mesti ditempuh oleh setiap muslim di mana setiap dari mereka pasti bersentuhan dengan dakwah.
Bahkan, Imam Hasan Al Banna pernah berkata :
“Nahnu Du’aatun Qabla Kulli Syai’in” (kami adalah pendakwah sebelum segala sesuatu).
Begitulah eratnya kaitan antara dakwah dan Islam itu sendiri.
 “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah?” (QS Fushshilat : 33)
Dalam tafsir “Fi Zhilalil  Qur’an”, Sayyid Qutb menafsirkan ayat ini dengan menulis :
“Allah memuliakan para penyeru kebenaran. Ya, Allah memberikan pujian kepada para penyeru kebenaran dan kepada sesiapa yang berani mengambil ‘tugas berat’ yang bahkan apabila ‘tugas’ ini diberikan kepada sebuah gunung maka robohlah gunung tersebut menjadi serpihan-serpihan sebagaimana yang tertera dalam ayat Al Qur’an berikut :
 “Kalau sekiranya Kami turunkan al-Quran ini ke atas sebuah gunung, niscaya akan engkau lihatlah gunung itu tunduk ter­pecah-belah disebabkan takut kepada Allah; dan perumpama­an-perumpamaan itu Kami perbuat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS Al Hasyr : 21)
Ya, itulah tugas berat yang di namakan dakwah di mana kita diajak untuk menjadi seorang penyeru kebenaran dan pewaris nabi.”
Jangan lupa bahwa Ali bin Abu Talib  pernah berpesan  bahwa para nabi tidak meninggalkan warisan berupa dinar dan dirham tetapi warisan para nabi dan rasul adalah ilmu.
Kita pun masih ingat juga bahwa Abu Hurairah ra pernah mengherdik beberapa orang yang lebih sibuk di pasar-pasar, sementara warisan nabi sedang dibahagi-bahagi di masjid, namun mereka tetap mengabaikannya.
Salah seorang dari mereka berkata :
“Kami tidak melihat adanya pembahagian apapun, kecuali beberapa orang tengah mengkaji Al Qur’an dan Hadits serta diskusi tentang halal haram”.
Lalu Abu Hurairah ra berkata : “Sungguh tidak cerdik kamu! Itulah warisan Rasulullah!”
Ianya bukan sekadar medapatkan ilmu, namun ada sebuah tanggungjawab untuk mendakwahkan serta menyebarkannya. Ini adalah kerana ilmu yang bertimbun dan tidak pernah di dakwahkan, hanya akan membuatkan pemiliknya menjadi fasiq tanpa sedar dan akhirnya keraslah hatinya sepertimana yang diungkapkan oleh Imam Asy Syafi’ie.
Mengingatkan akan beratnya tugas sebagai seorang penyeru dan pendakwah, maka setelah kebangkitan nubuwwah, wahyu pertama yang diterima oleh nabi, hinggakan baginda menggigil.
Maka di atas perintah Tuhannya, malaikat Jibril kembali  menyampaikan wahyu kepada baginda :
“ Wahai orang yang berselimut,bangunlah pada malam hari (untuk solat)….”  (QS Al Muzzammil 1-2)
Syaikh Munir Muhammad Al Ghadban menjelaskan  dalam kitabnya ‘Manhaj Haraki’ bahwa  solat malam atau ‘qiyamullail’ diwajibkan ketika itu (awal zaman dakwah terbuka dengan merahsiakan struktur gerakan) sebagai sebuah latihan intensif yang keras untuk komitmen dan taat kepada Allah.
Hikmahnya adalah pada ketika itu, dakwah mulai masuk pada zaman terbuka dan mulai mendapatkan geseran dan tekanan dari masyarakat musyrikin Quraisy. Maka diperlukanlah tenaga yang mampu meneguhkan mereka ketika itu, dan tenaga itu tidak lain adalah tenaga kerohanian iaitu hubungan yang teguh dengan zat Yang Maha Kuat.
“Sesungguhnya kami akan menurunkan sebuah perkataan yang berat kepadamu. Sungguh, bangun malam itu lebih kuat mengisi jiwa dan bacaan pada waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang.”  (QS Al Muzzamil 5-7)
ADAKAH DAKWAH FARDHU ‘AIN ATAU FARDHU KIFAYAH?
Walaupun dakwah suatu perkataan yang berat dan merupakan tanggungjawab yang besar namun ia tetap sahaja tidak boleh di tinggalkan. 
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada  kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung”  (QS Ali Imran :104)
Perkataan “ummat”  dalam kamus ‘Al Munawwir’ bermakna :
a.       ‘ar rajulu aljami’u lil khair’ ( laki-laki yang terhimpun padanya kebajikan).
b.      ‘ man huwa ‘alal haq’ (orang yang tetap di atas kebenaran).
c.       ‘asy-sya’bu wal jumhur’ (rakyat, masyarakat atau bangsa).  
Ia adalah sekelompok orang yang memiliki karakteristik sentiasa melakukan dakwah dengan mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya bahwa “min”  dalam frasa “waltakun minkum”  bermakna sebagai ‘min’ ‘bayaniyah’ yakni sebagai penjelasan bukan ‘tab’idhiyyah’ atau batasan.
Maka, ayat ini  menjelaskan bahwa dakwah adalah tanggungjawab yang merupakan kewajiban setiap individu muslim.
Sementara Imam Ar Razi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna “min” pada frasa di atas adalah sebagai sebuah bentuk pembatasan (tab’idhiyyah).  Alasan ini dikuatkan dengan  adanya sekelompok ummat yang tidak mampu menegakkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Maka perintah berdakwah ini  hanya berlaku kepada golongan ulama’ yang mengetahui yang baik (al khair). Jika demikian, maka hukum berdakwah menjadi ‘fardhu kifayah’. Apabila telah ada sekelompok orang yang melakukannya  maka gugurlah kewajiban kita.
Jadi, manakah yang lebih baik dari sudut hukum berdakwah? 
Pendapat Ibnu Katsir mungkin lebih tepat sepertimana mengucap salam atau solat jenazah yang dihukumkan sebagai fardhu kifayah di mana, tentulah seorang yang mempelopori sesuatu terlebih dahulu akan beroleh pahala yang lebih besar daripada yang mengikuti.
Ini adalah kerana kehidupan adalah perlumbaan ke arah kebajikan (fastabiqul khairat), maka mengambil kesempatan untuk menjadi yang pertama pasti menjadi sebuah kemestian, lebih-lebih lagi ini adalah dakwah yang dilaksanakan oleh penyeru kebenaran di mana Allah swt memuji para pendakwah dengan firmanNya :
“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah?” (QS Fushshilat : 33)
‘TAFAQQUH FID DEEN’ ADALAH INTIPATI DAKWAH
Kebiasaannya, manusia apabila dipuji maka akan membuatkan ia merasa bangga, apalagi jika pujian itu datang dari Pencipta Manusia. Tentulah ia menjadi sebuah prestasi yang tidak ternilai dan sangat membanggakan.
Lalu, jika dakwah adalah sebuah kewajiban dan setiap kita wajib untuk menyampaikannya. Secara logiknya apabila seseorang tidak mempunyai sesuatu maka dia tidak akan mampu memberikan sesuatu.
Jika kita telah mengambil dakwah sebagai sebuah pilihan hidup yang mesti ditempuh maka mahu tidak mahu kita memerlukan bahan-bahan dan ilmu untuk didakwahkan dan di sinilah peranan ‘tafaqquh fid deen’ bagi memperdalamkan pengetahuan agama sehingga kedudukan ‘tafaqquh fid deen’  disejajarkan dengan kewajiban berjihad dan bahkan termasuk ke dalam bentuk jihad.
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya ( ke medan perang ). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalamkan pengetahuan tentang agama dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”  (QS At Taubah : 122)
Ibnu Katsir meriwayatkan dari Ikrimah tentang ‘asbabun nuzul’ ayat ini iaitu setelah turunnya ayat, “Jika kamu tidak berangkat untuk berperang , niscaya Allah akan menyiksa kamu dengan siksa yang pedih,” ( QS At Taubah : 39) yang berkenaan dengan  perang Tabuk. Lalu orang-orang munafiq memberi komentar tentang beberapa sahabat nabi yang tetap tinggal di kampung untuk mengajarkan kaumnya tentang perkara-perkara agama, “Sungguh binasa orang-orang yang tidak turut dan berangkat  perang bersama Muhammad.”  Lalu turunlah ayat di atas.
BERDAKWAH DENGAN CARA YANG MUDAH
Seiring dengan bertambahnya usia dunia, objek dakwah yang wujud juga beraneka ragam. Kepelbagaian objek dakwah itupun menuntut kepelbagaian cara dan metod dakwah yang digunakan.
Perkembangan mazhab, ilmu pengetahuan hingga kepada keadaan geografi menuntut dakwah juga perlu berkembang. Rasulullah saw juga mengisyaratkan kepada kita untuk berdakwah dengan bahasa sasaran dakwah kita dan bahasa di sini tidak sekadar komunikasi secara verbal semata-mata tetapi juga segala budaya yang berlaku dalam lingkungan masyarakat.
Tentang berdakwah, kadang-kadang ianya boleh dilakukan dengan cara yang sangat mudah. Jika kita membuka mushaf Al Qur’an pada surah Yasin ayat ke 20 di mana di sana terdapat sebuah kisah tentang seorang lelaki  yang datang dari hujung kota yang berkata “wahai kaumku, ikutilah para utusan-utusan itu.”
Para mufassirin berpendapat, lelaki ini bernama Habib An Najjar di mana hanya dengan ajakan untuk mengikuti para rasul beserta dengan kalimat yang singkat, beliau beroleh sebuah sanjungan dari Allah swt.
“Katakanlah (kepadanya) ‘masuklah ke syurga’ Dia ( laki-laki itu –Habib An Najjar-) berkata ‘Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahuinya.’” (QS Yaasin : 25)
Belajar dari kisah Habib An Najjar, menunjukkan bahwa  berdakwah pun boleh dilakukan dengan cara yang sangat sederhana dan mudah bahkan hanya dengan mengajak.
1.      “Jom, ikut kuliah!”
2.      “Jom, masuk usrah!”
3.      “Jom, solat dhuha!”
4.      “Jom, solat jamaah!”
serta berbagai ajakan kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar.
Maka, berdakwah sebenarnya tidak perlu menunggu diri kita menjadi ustaz, bahkan boleh juga  berdakwah melalui media baru seperti Blog, Twitter, Facebook, dan lain-lain.
Yang terpenting dalam berdakwah adalah sepertimana ungkapan Imam Hasan Al Basri iaitu ketika sesuatu itu dikeluarkan dari hati maka ianya akan bertempat di hati dan apabila ianya hanya kata-kata manis bersifat retorik maka ia hanya berhenti pada telinga kemudian terlupa.
DAKWAH MEMERLUKAN PENENTUKURAN
Sebagaimana iman, dalam liku-liku perjalanan dakwahnya, seorang pendakwah juga pernah mengalami pasang surut semangat dakwah mereka.
Ini adalah kerana memang, dakwah itu bukanlah mudah. Jika tiada ikhlas, kita pasti akan menghadapi kesulitan untuk menyampaikan ilmu kita kepada saudara kita. Oleh kerana itu, seorang pendakwah juga memerlukan penentukuran dakwah mereka.
Ya dakwah memang memerlukan penentukuran sepertimana sebuah alat ukur yang mesti sentiasa dibetulkan sebelum melakukan sebuah pengukuran. Dalam ilmu pengukuran, penentukuran memiliki tujuan bagi menentukan tahap penyelewengan kebenaran nilai konvensional penunjukan suatu instrumen ukur dan menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan ‘standard’. Selain itu penentukuran juga sangat bermanfaat untuk menjaga keadaan instrumen ukur dan bahan ukur agar tetap sesuai dengan spesifikasinya.
Begitu pula untuk para pendakwah di mana mereka sangat memerlukan penentukuran. Tujuannya sama iaitu :
a.       Agar para pendakwah mampu bertahan lama dalam perjalanan dakwah ini.
b.      Perlu muhasabah untuk meneruskan kembali perjuangan dakwah ini.
Mulailah dari diri sendiri dengan bertanya :
1.      Sudahkah kita kembali memperbaharui niat kita?
2.      Masihkah Allah menjadi tumpuan utama dakwah kita?
3.      Adakah kita hanya berasa senang ketika mendapat gelaran aktivis dakwah?
Dakwah itu berat sehingga Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata :
“Istirehatnya kaum muslimin adalah ketika kaki kanannya menginjak ke dalam syurga”. 
Selama mana kita masih hidup di dunia, kita tidak akan pernah istirehat dari godaannya. Maka hendaklah kita sentiasa ingat Allah dalam setiap aktiviti dakwah kita. Jangan pernah sedikit pun terlalai kerana iblis amat pintar memanfaatkan peluang sekecil apapun. 
Pernahkah kita merasa terhimpit?
a.       Di mana amanah seolah-olah menjadi penjara jiwa.
b.      Rutin dakwah sudah seperti belenggu yang memberatkan.
c.       Kemudian dalam keletihan itu, kita berfikir bahwa besar sekali pengorbanan yang telah kita lakukan.
Namun ianya tidak lama, di mana kita kembali bersedih, mengingati sedikitnya penghargaan yang kita dapat di mana ganjaran yang kita raih tidak sebanding dengan kos yang kita keluarkan. 
Jika itu yang kita rasakan, bersabarlah kerana :
1.      Tidak ada pisau yang tajam tanpa dibakar dan ditempa.
2.      Tidak ada emas indah tanpa dipecah dan dilebur.
Boleh jadi rasa sakit yang selama ini kita rasakan adalah sebuah proses, di mana Allah ingin mengajarkan kita tentang :
a.       Erti kekuatan yang sesungguhnya.
b.      Hakikat perjuangan yang sebenarnya.
c.       Pengorbanan yang seutuhnya.
Selain penuh dengan onak dan duri, jalan dakwah ini begitu panjang dan sempit. Itu sebabnya tidak semua orang dapat memasuki dan menjelajahinya.
Maka, bekalkanlah diri kita dengan kefahaman kerana kekecewaan kita, protes kita atau keluh kesah kita boleh jadi adalah :
1.      Bukti ketidakmampuan kita dalam memahami hikmah atas apa yang Allah ajarkan kepada kita.
2.      Disebabkan oleh kurangnya kefahaman kita dalam memahami erti dakwah itu sendiri.
Berhati-hatilah ketika kita telah merasa berkorban, sesungguhnya kita belumlah lagi berkorban kerana :
a.       Tidak ada pengorbanan yang diiringi dengan penyesalan.
b.      Tidak ada pengorbanan yang disertai dengan kesombongan.
Sesungguhnya :
1.      Dakwah ini berat, bagi mereka yang suka mengeluh.
2.      Dakwah ini menyakitkan, bagi mereka yang tidak pernah berkorban.
3.      Dakwah ini mengecewakan, bagi mereka yang sentiasa menuntut.
4.      Dakwah ini membosankan, bagi mereka yang jauh dari keteladanan.
Pada akhirnya, dakwah ini hanyalah selonggok nurani yang terbiar, yang menunggu waktu hingga datang seorang pendakwah yang tulus, kuat dan teguh dalam memikul amanah ini.
Ia mahu menerima bebanan, lantaran sedar dan peduli bahwa mesti ada yang memikul tanggungjawab ini. Ia bersedia menjalaninya kerana ia yakin tidak berjalan seorang diri bahkan sentiasa ada ‘tangan-tangan’ tersembunyi yang sentiasa menuntun dan menolongnya dan sentiasa ada balasan yang besar dan darjat yang tinggi dari-Nya, itulah yang membuatnya tetap tersenyum meskipun ia terluka.
Allah akan memberi ganjaran yang sebesar-besarnya dan darjat yang setinggi-tingginya bagi mereka yang sabar dan lulus dalam ujian kehidupan di jalan dakwah. Jika ujian, cobaan yang diberikan Allah hanya yang mudah-mudah sahaja, tentu kita tidak akan memperolehi ganjaran yang hebat.

Di situlah letak hikmahnya, iaitu bagi seorang pendakwah, ia perlu bersungguh-sungguh dan sabar dalam meniti jalan dakwah ini. Perjuangan ini tidak boleh dijalani dengan :

a.       Ketidaksungguhan.
b.      Azam yang lemah.
c.       Pengorbanan yang sedikit.
Marilah kita beristighfar,
1.      Istighfar, apabila dakwah kita selama ini sering diselangi dengan keluh kesah.
2.      Istighfar, apabila orientasi kerja kita masih keliru sehingga akhirnya hanya keletihan yang kita dapat.
3.      Istighfar, jika ternyata kita termasuk aktivis dakwah yang beramal seadanya, mengada-ada atau ada-ada sahaja.
Semoga hati kita bergetar kerana-Nya dan semoga Istighfar tadi dapat membuka hati kita yang selama ini membeku, tertutup oleh keletihan dan kelemahan iaitu :
a.       Keletihan kerana lupa pada-Nya.
b.      Kelemahan kerana tidak menyertakan-Nya pada setiap amal kita.
Jika letih, tidak ada salahnya kita beristirehat meskipun sejenak kerana dengan beristirehat, kita dapat tahu bahagian mana yang letih dan bahagian mana yang salah.
Dengan beristirehat, kita dapat mengumpulkan tenaga untuk kembali berlari sementara biarkan otak kita menghimbau kembali apa sahaja yang telah kita lakukan selama ini serta tanyakan kepada diri kita :
1.      Mengapa kita melakukan semua itu?
2.      Apa yang membuatkan kita bertahan hingga sejauh ini?
Biarkan jiwa kita menyelami makna dari setiap jengkal perjuangan yang telah kita lakukan.
Adakah kita terlupa?
a.       Tentang nikmat yang lupa untuk kita syukuri.
b.      Tentang amal kecil yang belum kita laksanakan.
Adakah yang terlewat?
1.      Tentang dosa-dosa kecil yang kita remehkan.
2.      Tentang kelemahan yang tidak kunjung dikuatkan.
sehingga asas dakwah kita reput, terjerut oleh waktu dan nafsu sehingga amanah tidak ubah seperti tongkat sakti, meskipun berpindah namun tidak berubah serta tiada berkat. Sampai bila kita akan terjebak dalam putaran tetap seperti ini?
Marilah kita beristirehat sejenak yang tidak memerlukan waktu yang lama sepertimana yang dilakukan oleh salah seorang sahabat Rasulullah saw yang dijamin masuk syurga kerana kebiasaannya ketika sebelum tidur, ia :
a.       Mengistirehatkan egonya.
b.      Mengistirehatkan nafsunya.
c.       Mengistirehatkan kealpaan dan kelemahannya dalam sehari itu.
d.      Mengistirehatkan semuanya dalam titisan air mata penuh sesal atas dosa.
Bukankah pula yang menyebabkan sahabat yang lain juga dijamin masuk syurga kerana setiap hari ia terbiasa :
1.      Mengistirehatkan kesedihannya.
2.      Mengistirehatkan kemarahannya.
3.      Mengistirehatkan bayang dan prasangkanya terhadap orang lain.
Sehingga dalam sehari, sebelum tidur, ia sentiasa :
a.       Memaafkan orang yang telah membuat hatinya terluka.
b.      Membersihkan hatinya terhadap irihati dan dengki, apabila orang lain mendapat rezeki melebihi dirinya.
Marilah kita tetap menjadi kuat. Jangan biarkan diri kita lemah dan terjerumus dalam kungkungan kesedihan, namun jangan pula kita jadikan sebuah amanah sebagai kambing hitam atas ketidakmampuan kita untuk bersikap seimbang dalam menunaikan amanah-amanah lain.
Ingatlah, kekuatan dakwah bukan terletak pada :
1.      Ramainya manusia yang mendatangi majlis kita.
2.      Besarnya sebuah acara.
3.      Banyaknya agenda yang kita lakukan.
Tapi, kekuatan dakwah terletak pada sebuah kesederhanaan yang terpancar dari setiap peribadi para pendakwah serta aktivisnya kerana menjadi sederhana itu suatu kekuatan.
Apabila orang lain telah menjauh dan terpalit dengan kedustaan dan kemalasan, tetaplah kita berada pada kesederhanaan kerana :
a.       Kesederhanaan itu wujud sebagai sebuah amal yang jujur serta tidak banyak alasan.
b.      Kesederhanaan juga terpancar pada kesabaran, tanpa banyak keluhan.
Kesederhanaan tentunya lahir dari sebuah kesedaran iaitu :
1.      Sedar untuk menjaga keikhlasan dalam niat.
2.      Sedar untuk tetap komited dalam dakwah.
3.      Sedar untuk terus istiqamah, meskipun orang lain sudah berubah.
Pendakwah itu hendaklah seperti kipas angin :
a.       Terus berputar dalam lingkaran yang sama.
b.      Kehadirannya membawa kenyamanan.
c.       Pergerakannya berbuah kesejukan bagi orang di sekelilingnya.
Boleh jadi, pendakwah merasa bosan dan letih akan jalan hidupnya, yang ‘hanya’ dicurahkan untuk dakwahnya serta berpartisipasi untuk perkara-perkara yang serupa, layaknya seperti kipas angin yang hanya bergerak dan berputar dalam lingkaran yang sama.
Biarkanlah kebosanan dan keletihan itu hinggap, tapi tidak usah dihiraukan kerana orang-orang disekitar kita akan merasa nyaman dan sejuk akan kehadiran kita. Ya, semestinya kehadiran seorang pendakwah membawa ketenteraman kerana ia datang membawa penyelesaian.
Namun jika pergerakan pendakwah justeru membawa kesusahan, kesesakan dan kepanasan bagi orang di sekelilingnya, cuba renungkanlah. Barangkali ada yang tidak kena dengan caranya apabila kehadiran pendakwah justeru membuahkan perpecahan dan saling berdebat antara manusia.
Boleh jadi cara yang diterapkan tidak tepat untuk keadaan dan situasi semasa. Fikirkanlah, tidak usah kita terpaku dan bersikap statik pada metod dan cara-cara yang tidak diatur oleh Rabb kita dan tidak diajarkan oleh nabi besar kita Muhammad saw.
Hanya sahaja tetaplah berjalan pada lorong-lorong yang tidak melanggar syariah. Ingatlah tuntunan agama, “berdakwahlah dengan cara yang terbaik”, tidak hanya baik, tapi “terbaik”. Tentu sahaja apabila pedoman ini kita pegang dengan erat, tidak akan kita temui situasi saling berdebat, saling serang menyerang, bahkan saling berlakunya perpecahan umat.
Objek dakwah seharusnya tidak akan menemui :
1.      Islam yang bersifat konfrontasi.
2.      Islam yang tidak mengenal toleransi.
3.      Islam yang terkenal kaku.
Sebaliknya mereka sepatutnya hanya akan melihat Islam yang indah, kukuh tapi fleksibel serta penuh dengan kasih sayang dan limpahan rahmah.
Jika tidak ada yang salah dengan caranya dan tidak ada yang keliru dalam metodnya, maka tanyakan kepada hati kita, renungkanlah! Kemungkinan ada yang salah dengan niat kita serta ada tenaga lain yang membuatkan seseorang pendakwah berlari kencang menuju cinta selain Allah.
Pendakwah adalah umpama kipas, iaitu kipas yang memiliki ruh. Ia bergerak dan berputar bukan kerana terpaksa sepertimana kipas yang mesti berputar hanya kerana suis “ON” telah ditekan dari tubuhnya. Pendakwah bergerak dan bekerja dengan tenaga yang jauh lebih besar dan lebih dahsyat iaitu tenaga cinta dan kasih akan Rabbnya.
Apabila ada tenaga lain yang menggerakkan pendakwah, tidak akan ada lagi kenyamanan yang akan dirasakan oleh objek dakwah dan tidak ada lagi kesejukan yang berbuah ketenteraman, sebaliknya angin-angin panas yang keluar dari kipas yang membuatkan diri semakin gelisah kerana ruh-ruh rahmah tidak lagi tercurah.
Ramai dari aktivis dakwah yang bergerak kerana sebab-sebab lain samada mementingkan dirinya atau menghitung untung rugi dunia, bahkan hanya demi pasangan hidupnya, layaknya seperti ia sedang berniaga dengan sesama mereka. Janganlah kita tertipu, cukuplah Allah dan Rasul menjadi teman dalam perniagaan kita. Lupakan keuntungan dunia yang menipu. Jauhkan!!, jangan sampai ia merosakkan hati kita!!
Luruskan lagi kembali niat kita. Kita menyeru bukan untuk memuja harakah kita, tapi dakwah kita adalah menyeru untuk perbaikan dan persatuan ummat. Ada tujuan yang jauh lebih mulia yang patut kita perjuangkan, tentunya dengan tenaga kasih dan cinta dariNya hinggakan kelak kita akan puas ketika bertemu denganNya.
Apabila kita sudah merasa mantap dengan usaha-usaha tersebut, tapi tidak juga hasil positif yang kita perolehi, kita tidak perlu berputus asa kerana sesungguhnya para Rasulpun telah didustakan oleh kaum mereka. Jangan kita terpaku pada hasil, kerana sungguh kita bukan berniaga dengan manusia. Allah melihat kesungguhan kita dan proseslah yang dinilaiNya sedangkan hasil adalah hak mutlak kehendakNya.
Wahai pendakwah :
a.       Teruslah melangkah, kerana langkahmu penuh dengan hikmah.
b.      Teruslah bergerak, kerana pergerakanmu membuatkan kesesatan dan kezaliman terhambur.
c.       Teruslah bertahan, kerana kehadiranmu akan berbuah persatuan dan kejayaan Islam.
Ya Allah, jadikanlah kami pendakwah yang berpegang teguh dengan cara-cara dan metod yang telah Engkau tentukan. Tetapkanlah kami di atas jalan yang lurus walaupun badai fitnah kuat melanda hati dan jiwa kami. Jadikanlah kehadiran kami di tengah-tengah manusia sebagai punca manusia mendapat petunjuk dariMu.

Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS
[ Read More ]
Read more...
Newer Posts Older Posts
Subscribe to: Posts (Atom)

Yang Setia

Pautan

  • Muharikah
    Antara dua pilihan
    5 years ago
  • Angel Pakai Gucci!
    Doa Itu Bom Nuklear Bagi Orang Mu'min!
    7 years ago
  • Majalah Jom!
    Isu 45: ALAMAK, AKU SALAH PILIH! (EDISI ISTIMEWA)
    10 years ago
  • دعوتنا DAKWATUNA -dakwahkite-
    Di antara Kefahaman dan Pelaksanaan (Sudut Pandang Parti Kebebasan dan Keadilan FJP – Mesir)
    11 years ago
  • ZADUD-DUAT
    Wahai Ikhwah, Persaudaran adalah rahsia kekuatan anda
    12 years ago
  • Popular
  • Recent
  • Archives
 

Diri Ini

My photo
WAS
Blog ini memaparkan bahan-bahan bacaan dan artikel yang boleh meningkatkan ilmu dan kefahaman Islam anda..
View my complete profile

Blog Ini Menarik??

Yang Paling Digemari

  • Mutiara Hikmah Para Duat
  • Iman Asas Amanah
    Di dalam Al Qur'an, Allah swt sentiasa menegaskan tentang iman, bahkan panggilan identiti hamba-hambaNya disebut dengan : "Al Mu...
  • Ikhlas Kunci Kebahagiaan Hakiki
    Ikhlas adalah rahsia : a.        Di sebalik kejayaan setiap amal manusia. b.       Penyelamat hati manusia. c.        Menuju kebah...
  • Memohon Dari Al Jabbar
    Seringkali manusia terjebak oleh pemikirannya sendiri dan merasa mampu untuk merancang segala sesuatu. Padahal tidak ada kekuatan dalam d...
  • Wawancara Isteri Bakal Presiden
    Semakin besar harapan Dr. Muhammad Mursi untuk meraih kemenangan dalam pilihanraya presiden pertama  secara bebas di Mesir, semakin ramai...

Arkib

  • ▼  2017 (1)
    • ▼  April (1)
      • Mutiara Hikmah Para Duat
  • ►  2016 (4)
    • ►  September (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (39)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (3)
    • ►  July (1)
    • ►  June (5)
    • ►  May (6)
    • ►  April (6)
    • ►  March (6)
    • ►  February (2)
    • ►  January (5)
  • ►  2014 (42)
    • ►  November (5)
    • ►  October (4)
    • ►  August (4)
    • ►  July (1)
    • ►  June (9)
    • ►  May (8)
    • ►  April (4)
    • ►  February (3)
    • ►  January (4)
  • ►  2013 (72)
    • ►  December (1)
    • ►  November (5)
    • ►  October (4)
    • ►  September (5)
    • ►  August (6)
    • ►  July (5)
    • ►  June (7)
    • ►  May (5)
    • ►  April (7)
    • ►  March (7)
    • ►  February (9)
    • ►  January (11)
  • ►  2012 (163)
    • ►  December (8)
    • ►  November (9)
    • ►  October (9)
    • ►  September (9)
    • ►  August (6)
    • ►  July (12)
    • ►  June (9)
    • ►  May (15)
    • ►  April (16)
    • ►  March (18)
    • ►  February (24)
    • ►  January (28)
  • ►  2011 (93)
    • ►  December (24)
    • ►  November (69)

Susunan

  • Akhlak (6)
  • Aqidah (17)
  • Dakwah (73)
  • Fikrah (74)
  • Ilmu (38)
  • Motivasi (10)
  • Muslimah (3)
  • Mutiara Hikmah (12)
  • Mutiara Hikmah Para Duat (21)
  • Mutiara Hikmah Ramadhan (3)
  • Renungan (31)
  • Ruhiyah (8)
  • Tarbiatuna (5)
  • Tarbiyah (34)
  • Tausiyah (31)
  • Tokoh (8)
  • Uslub (11)
  • Video (29)

Panji Islam

Asmaaul Husna

Kalam Hikmah

Coretan Anda

Pengunjung

Detik Kehidupan

Hari Ini

Waktu Solat

Pelawat


widgets

Selamat Melayari

  • NEW POSTS
  • COMMENTS
  • flickr

    Get your Flickr ID!
 
 
© 2011 Tinta Perjalanan | Designs by Web2feel & Fab Themes

Bloggerized by DheTemplate.com - Main Blogger